Posted by Wanji Zain

"..DARI SEBUAH RASA.."
..Bintang Menjadi Saksi..

...Situasi 2...


Ketika malam itu menjengah sebening pagi, sambil sepasang mata ku merenung sinar neon yang membias di permukaan tasik saksi, hati pun berbisik "..inikah cinta dan rindu..?"..............

Di sisi, Sang Permaisuri masih cuba bersembunyi di sebalik riak wajah yang seperti bidadari. Namun matanya membicarakan sesuatu tentang keinginan, harapan dan perasaan yang tak terucapkan. Lemas dalam kabus pagi, bersaksikan bintang-bintang di langit, meratap antara dua rasa yang tidak terfahami, hati pun berbisik lagi, "..perasaan apakah ini..?"........

Isi di dada langit itu menjadi pemerhati yang setia. Bintang-bintang itu melihat dengan tanpa bicara. Namun aku tahu ia memahami, dan aku tahu ia mengerti. Seperti mengertinya aku dan Sang Permaisuri yang saling berbahagi cerita suka, duka, dan cuba untuk mengukir sebuah cerita baru antara aku dan dia. Dan bintang yang menjadi saksi.

Berkali-kali aku mengulang tatap kepada bintang di langit, dan sesekali aku menyerunya dengan kata-kata syahdu. Namun hakikatnya aku sedang menatap bintang di dalam hati ku dan hati Sang Permasuri yang berada dekat di sisi ku. Sang Permaisuri pun menyentuh ku, membelai lembut rambut ku dengan senyuman yang penuh kasih dan harapan. Aku tahu, itu adalah bicara yang dalam dari dalam hatinya. Bicara yang masih tidak mampu untuk diucapkan. Bicara yang mengharap agar aku dapat mencicipnya dengan penuh pengertian..

Bintang, walau dari tempat yang mana pun pencinta itu melihatnya, ia akan tetap sebuah bintang yang sama. Tiada beza, tiada terbahagi menjadi dua. Kerana bintang adalah satu, seperti mana satunya hati walau berada di dalam dua tubuh yang berbeza. Dan hati, jika ianya benar-benar dimengerti, nescaya ianya tak akan pernah memaksakan. Kerana di dalam hati itu mempunyai jiwa dan perasaan yang apabila pencinta itu menemukan, nescaya akan dipeliharanya sehingga akhir hayat di kandung badan.

Dari bercerita tentang kisah-kisah dan rahsia rasa yang terpendam di hati dengan bintang menjadi saksi, kata-kata puisi pun terbit menjadi jambatan bicara. Dan ketika itu aku melihat ke dalam mata Sang Permaisuri berulang-ulang kali. Aku ingin menatapnya sepanjang pagi ini. Aku ingin membaca bicara matanya yang penuh dengan impian dan harapan tersembunyi. Namun aku tewas setiap kali jemarinya singgah di pipi ku, tewas ketika jemarinya membelai lembut rambut ku. Aku tewas untuk membaca bicara matanya. Aku biarkan fikir dan rasa ku hanyut dalam sentuhannya. Dan yang aku temukan dari pelayaran itu, ia adalah Cinta, Kasih dan Sayang-nya.

Begitulah sepanjang malam sehingga hampir terbitnya mentari pagi. Dan hati tetap tidak rela untuk melepaskan Sang Permaisuri pergi. Sungguh, aku terdesak untuk menahannya pergi. Namun aku harus melepaskan jua demi sebuah kesejahteraan dan kebahagiaannya. Sepanjang malam, sehinga terbitnya mentari pagi itu, aku mengakhirinya dengan sebuah bicara kucupan yang aku singgahkan ke pipi Sang Permaisuri....


...bersambung...

This entry was posted on Sabtu, 21 Januari 2012 at 5:53 PTG . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 ulasan

Catat Ulasan