Posted by Wanji Zain

"..DARI SEBUAH RASA.."
..Beratnya Sebuah Rindu..

...Situasi 8...



Rindu. Rindu yang bersarang dalam hati ku saat ini seperti akan memecahkan jantung ku sebentar lagi. Dalam kesendirian sebegini, aku teringatkan tasik saksi yang menjadi medan antara aku dan Sang Permaisuri memadu erti. Terasa hati dan kaki ini terpanggil untuk ke sana saat ini, namun aku tahu jika aku ke sana, pasti aku akan lemas lagi.

Aku merenung bintang-bintang di langit, menyuarakan padanya bahawa aku sangat merindui Sang Permaisuri saat ini. Dan aku berharap, Sang Permaisuri juga sedang merenung bintang yang sama dan mendengar suara kerinduan ku ini. Sayu, syahdu. Lembutnya selembut nafas yang menjalar ke dalam tubuh ku dengan tanpa terasa. Namun ada. Ianya menyatu dalam seluruh nafas dan rongga tubuh ku, merasakan sebuah kebahagiaan di sebalik perasaan rindu ini.

Aku tak akan menahan airmata ini mengalir. Mengalirlah. Mengalirlah sehingga seluruh tanah hati ku basah dengan Cinta, Kasih dan Sayang ku terhadap Sang Permaisuri. Mengalirlah sehingga ianya menyentuh rasa seluruh alam yang menjadi saksi ini. Mengalirlah sehingga ianya meresap masuk ke dalam perasaan dan jiwa Sang Permaisuri Rindu. Mengalirlah. Aku tidak akan pernah menahannya. Mengalirlah. Dan aku tidak akan pernah untuk menyesalinya.

Berat. Rasa rindu ini terlalu berat. Rindu yang sarat dengan kasih sayang, di mana langit sendiri pun tidak akan mampu untuk menanggungnya. Luas. Rindu ini sangat luas. Rindu yang terhampar luas sehingga bumi ini pun tidak dapat menampungnya. Namun siapakah yang mengerti pada rasa rindu ini..? Siapakah yang sanggup untuk memikulnya bersama ku..? Sang Permaisuri. Itulah yang aku harapkan. Sang Permaisurilah yang ku harapkan memikulnya bersama ku. Namun, apakah Sang Permaisuri akan sanggup bersama ku..?

Sang Permaisuri kini berada jauh dari sisi ku. Namun aku yakin, bahawa dia sedang menatap bintang yang sama seperti ku. Bintang yang bercahaya itulah saksi rindu ini. Bintang yang indah itulah pengukuh semangat di hati, bahawa suatu waktu aku akan dapat juga duduk bersama Sang Permaisuri lagi. Mungkin beberapa saat lagi, atau mungkin beberapa hari lagi, atau juga mungkin beberapa minggu lagi. Aku akan tetap sabar menanti.

Sungguh, ada suara yang tidak mampu aku khabarkan. Dan itu biarlah aku sendiri yang menanggungnya sehingga sampai waktu. Yang penting bagi ku sekarang, aku ingin Sang Permaisuri berbahagia dan lepas dari segala rasa sakit derita. Itu lebih besar dari kesakitan ku. Itu lebih utama bagi ku.

Dingin. Kedinginan ini semakin memberatkan rasa rindu ku terhadap Sang Permaisuri. Satu demi satu kenangan sejak dari pertemuan ku dengan Sang Permaisuri bertamu di ruang mata rasa ku. Suka, duka, bahagia dan derita, tawa dan airmata yang menghiasi takdir aku dan Sang Permaisuri menjadi penawar rasa rindu ini. Di sini, aku sendiri bertemankan bayangan Sang Permaisuri di sisi.........


...bersambung...

This entry was posted on Rabu, 8 Februari 2012 at 2:41 PG . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 ulasan

Catat Ulasan